Author : Hilalatul Aini/ Kim Min Ri
Fb : http://www.facebook.com/hilalatul.aini
Twitter : https://twitter.com/Clouds_Girls
Genre : Sad(?) Romance(?)
Rating : 15(?)+
Length : OneShoot
Cast : o> Cho Kyuhyun [조 규현]
o> Shin Ah Rin [신 아 린]
This is my own Story, my own idea..
Check It Out, Readers..
Check It Out, Readers..
*김 민리 입니다*
Kenapa
di sini (neken dada) terasa sangat sakit ketika aku melihatnya bersama
orang lain? Memangnya apa urusanku dengannya? Bukankah aku sudah bertekad akan
melupakannya? Kenapa masih saja terasa sakit.
“ARRRRRGGGGGGGHHHHH!!!!!”
aku berteriak di tepi sungai Han untuk melepas semua rasa sakit ini. Sungguh.
Rasanya terlalu menyakitkan. Dia yang dulu selalu mengkhawatirkan keadaanku,
sekarang malah tidak pernah mau mengetahui keadaanku. Kini dia membenciku.
Alasan?
Aku
tak tahu alsan mengapa dia menjauhiku. Sejak dia mengenal Kang Sohae, sikapnya
mulai berubah terhadapku. Dia yang selalu memanggilku ‘chagi’ disetiap messege
yang dikirimnya untukku, mulai tidak menggubris messege yang aku kirimkan. Dia
yang biasanya selalu menelponku, sekedar untuk memastikan keadaanku,
mulai menghilangkan kebiasaannya itu.
Aku
pernah menanyakan alasan perubahan sikapnya padaku, tapi dia tak pernah
menggubris pertanyaanku. Malah dia memutuskan komunikasinya denganku. Dia
benar-benar menghilang dari kehidupanku.
Aku benci pada Kang
Sohae. Padahal dia mengetahui perasaanku padanya. Tapi entah apa
alasannya, dia berpacaran dengannya. Aku sungguh membencinya. Namun apa
yang bisa aku lakukan? Sohae adalah sahabatku. Dan aku tak ingin persahabatan
kami putus hanya gara-gara dirinya.
Namun
hal yang tidak bisa aku maafkan dari dirinya adalah, dia tak pernah menyapaku
saat kami berpapasan. Dia malah mengalihkan pandangannya dari diriku. Dia
membenciku. Dia bersikap seolah tak pernah mengenalku. Dia seolah jijik padaku.
*****
Malam
itu, aku sedang mengulang pelajaran di kamar kosku, karena esoknya akan ada
kuis yang diadakan oleh Park Sonsaengnim. Tiba-tiba ‘Drrt drrt
drrt’ handphoneku bergetar, tanda sebuah sms masuk.
‘From : Cho Kyuhyun
Content :
Annyeong, Chagiya. Ottokhe jinaseyo?’
“Mwo??
Chagi???” aku terkejut membaca pesan darinya.
‘Apa
benar ini Kyuhyun? Mengapa dia memanggilku chagi? Ah, aniyo.. ini pasti
kerjaan Eunhyuk atau Donghae. Mana mungkin Kyuhyun memanngilku chagi’
batinku.
‘To : Cho
Kyuhyun
Content:
Mianhae. Nuguseyo?’
Sent.
“Huh,
apa-apaan mereka? Apa mereka pikir bisa mempermainkan aku? Kyuhyun
tidak mungkin memanggilku chagi. Di sekolah, dia bahkan jarang menyapaku.”
gumamku. ‘Tapi, aku memang menyukainya. Aku sungguh sangat menyukainya. Andai dia
benar Kyu...’
Drrt drrt drrt
‘From : Cho
Kyuhyun
Content : Kyuhyun
imnida. Bukankah tadi siang aku sudah menelponmu?’
“Maldo
Andwae. Tidak mungkin kau Kyu”, gumamku.
Reply.
‘To : Cho
Kyuhyun
Content :
Maldo andwae. Kamu pasti bukan Kyuhyun. Kau pasti Eunhyuk
atau kalau bukan, kamu pasti Donghae, benar kan? Dasar
pasangan ikan! Jangan mempermainkanku!’
Sent.
Drrt drrt drrt
‘From : Cho
Kyuhyun
Content :
Aniyo. Ini aku Cho Kyuhyun, kelinciku sayang.’
Reply
‘To : Cho
Kyuhyun
Content :
Aniyo. Kamu pasti bukan Kyuhyun. Sudahlah, jangan mempermainkan aku.’
Sent.
‘Mengapa kamu
tak percaya kalau aku adalah Cho Kyuhyun?’
‘Karna kau
memanggilku chagi. Kamu pasti bukan Cho Kyuhyun . Sudahlah,
jangan mmpermainkan aku. Pabo namja!’
‘Ya! Apa salahnya
aku memanggilmu chagi? Apa kamu lebih senang dipnggil ‘tokki’ (kelinc)i?’
‘Ya! Jangan
memanggilku kelinci. Aku bukan kelinci!!’
‘Makanya,
biarkan aku memanggilmu chagi, eoh?.’
‘Andwae. Siapa
kamu, seenaknya mau memanggilku chagi? Hanya kekasihku yang boleh
memanggilku chagi. Arra! Dan satu lagi. Berhenti mempermainkanku.Aku tidak akan
tertipu, karna kau bukan Cho Kyuhyun!!’
‘Bagaimana agar
kamu percaya kalau aku adalah Cho Kyuhyun? Dan aku hanya
ingin memanggilmu chagi.’
‘Aku sangat
mengenal suara Kyuhyun.
Kamu bisa menelponku....’ Sent.
‘Haha,
aku yakin kau takkan berani mempermainkanku lagi, batinku sambil tersenyum
memandang layar handphoneku.
‘Kapan aku bisa
menelponmu?’
‘Teaserah. Malam
ini bisa, besok juga bisa. Itu terserah kamu.’
“Hahaha.
Kamu takkan bisa lagi mempermainkanku. Karena aku sangat mengenal suara Kyuhyunie,”
aku tersenyum puas memandang layar handphone ku. Namun tiba-tiba....
Cause i can’t
stop thinking about you girl
Neol naekkeoro,
mandeulgeoya
No I can’t stop
thinking about you girl
Nae uri-ane,
gachigo shipeo
‘Cho
Kyuhyun calling’
MWO??!!
Dia menelponku? Apa mungkin dia benar-benar Kyunie?
Ku tekan tombol
menjawab telpon. Perlahan ku dekatkan ke telingku.
“Yo..
yoboseo,”kataku terbata.
“Yoboseyo, kelinci.”
Jawaban dari seberang sana.
DEG.
Itu memang suaranya Kyuhyun.
“Ottae? Apa sekarang
kamu percaya bahwa aku adalah Cho Kyuhyun, chagiya?” lanjutnya.
DEG DEG DEG
“A..a..apa benar kau
Cho Kyuhyun?” lho. Kok aku malah tak yakin?
“Lho, kok kamu
ngomong begitu? Bukannya kau sangat mengenal suaraku? Apa kau masih belum
percaya, kelinci?”
“YA! Jangan
memanggilku kelinci!” ku dengar dia terkekeh. Aduh, pasti wajahku sudah sangat
merah sekarang. “YA! JANGAN MENERTAWAIKU SEPERTI ITU!!”
“Hahahaha. Kau lucu,
Rin-ah. Geureom, bolehkah aku memanggilmu chagi?”
BLUSH. Wajahku
kembali berhasil memerah dengan sempurna(???)
“A.... i..i..itu..”
aku menggantung kata-kataku.
“Hmm?”
“I..itu, itu...
Terserahlah,”kembali kurasakan wajahku memanas.
“Baiklah, mulai
sekarang aku akan memanggilmu chagiya, Arra? Dan kau harus memanggilku Oppa.
Arra!!” katanya, yang lagi-lagi sukses membuatku memerah.
“Baiklah, Kyu..
ani, maksudku, oppa,” jawabku.
Dan
sejak saat itulah dia memanggilku chagi, tapi hanya melalui messege atau saat
dia menelpon. Di sekolah? Sikapnya seperti biasanya. Dia tidak pernah
menyapaku. Namun bila berpapasan denganku, dia akan menunduk sambil terenyum
tak jelas. Itu juga yang aku lakukan.
Jujur
saja aku bingung dengan hubunganku dengan dirinya. Dikatakan pacar, tapi kami
tak pernah berkencan. Tapi dikatakan teman, sepertinya salah juga. Karena dia
selalu memanggilku chagi. Dan dia selalu mengkhawatirkan keadaanku. Dia akan
marah bila aku menyapa EunHae, tapi aku tidak menyapanya. Dia juga
akan memarahiku kalau aku terlambat makan. Dia sangat memperhatikanku.
Hingga
saat kami naik kelas 2 SMA. Sikapnya mulai agak berubah setelah aku mengenalkan
dia pada Kang Sohae.
Kang
Sohae adalah sahabatku dari Bupyung. Kami telah bersahabat sejak kecil.
Kami sangat dekat seolah kami adalah saudara kandung. Kami berpisah ketika
orangtaku meninggal, dan aku diboyong oleh Lee ahjussi ke Seoul.
Mengapa
dia bisa ada di sini? Appanya dipindahkan oleh perusahaannya ke Kantor pusat
mereka di Seoul karena prestasinya yang sangat baik. Namun yang tak ku sangka,
Sohae tega merebut dirinya dari diriku. Padahal dia mengetahui bagaimana
perasaanku padanya.
Setelah
mengenal dan menjadi namjachingu Kang Sohae, Kyuhyun benar-benar memutuskan
hubungan denganku. Messege yang ku kirim, tak pernah sekalipun dia membalasnya.
Ketika aku menelpon, dia tidak mau menjawabnya. Dan, bila dijawab pun, pasti
saat itu dia sedang sibuk. Ketika berpapasan di sekolah, dia tidak lagi
tersenyum padaku. Dia bahkan melengoskan wajahnya saat bertemu denganku.
Seakan-akan dia membenciku dan tidak pernah mengenalku.
Aku
selalu bertanya dalam hati, mengapa sikapnya berubah sedrastis ini padaku dalam
waktu yang singkat. Pernah aku ingin bertanya langsung padanya. Namun melihat
sikapnya yang seolah tidak pernah mengenalku, keberanianku surut. Aku
benar-benar takut berhadapan dengannya.
Kyuhyun
selalu akrab dengan yeojadeul yang dikenalnya. Tapi, mengapa dia tidak bisa
bersikap sama kepadaku?
Okelah
kalau dia tidak mencintaiku lagi. Kami bisa menjadi teman. It’s fine. Namun,
dia seolah menutup dirinya dari diriku.
Apa
segitunya dia membenciku?
6
tahun telah berlalu. Namun aku masih belum bisa membuka hatiku kepada namja
lain. Entah kenapa, aku selalu yakin bahwa dia akan kembali padaku suatu saat
nanti. Banyak namja yang mencoba mendekatiku. Namun aku hanya menganggap mereka
tidak lebih dari teman. Hingga akhirnya tak ada lagi yang berniat mendekatiku.
Suatu
hari, saat aku tengah menikmati dinner ku di sebuah cafe seorang diri,
tiba-tiba mataku menangkap sosok namja yang selama ini ku nanti. Namja yang
selalu ada di hatiku. Dia memasuki cafe sambil menelpon. Aku ingin menyapanya,
namun urung ketika kulihat dia melambaikan tangan kepada seorang yeoja yang
sangat cantik menurutku.
“Kyuhyun
oppa! Jeongmal bogoshipeo,”katanya sambil memeluk namja itu. Sungguh, sangat
menyakitkan bagiku untuk melihatnya. Namun mataku terus mengawasi pergerakan
mereka. Mataku tidak bisa lepas dari Kyuhyun. Kulihat dia membalas pelukan yeoja itu
sambil mengelus rambut panjang yang dibiarkan tergerai dengan indahnya.
“Nado,
chagi” jawabnya.
Chagi.
Dia memanggil yeoja itu chagi? Apa mungkin, yeoja itu adalah kekasihnya?
Sungguh,
aku tidak sanggup lagi melihat mereka. Aku melangkah gontai menuju kasir dan
membayar makanan yang telah aku makan walaupun tak sampai setengah dari
porsinya. Selera makanku hilang melihat adegan tadi. Aku meninggalkan cafe itu
dan berjalan menuju sungai Han yang lumayan dekat dengan cafe itu. Aku berjalan
gontai dengan air mata yang telah menganak sungai di pipiku.
Sungguh
sangat menyakitkan melihatnya memeluk dan memanggil yeoja lain dengan panggilan
chagi. Hatiku remuk redam. Aku ingin menumpahkan segala kesakitan hatiku dengan
berteriak di tepi sungai Han.
“AAARRRRGGGGHHHH!!!!”
Aku tak perduli orang lain memandangku aneh. Aku terus menangis dan berteriak
sambil memukul-mukul dadaku yang terasa sangat sakit.
“Mengapa
aku sebodoh ini yang selalu mengharapkan dirimu kembali padaku, Kyuhyunie.
Mengapa aku tak bisa membencimu? Aku lelah. Aku sangat-sangat lelah menanggung
beban ini. Mengapa aku selalu mengharapkanmu? WAE OPPA!! MENGAPA AKU TAK BISA
MEMBENCIMU??!!” kembali aku meneriakkan suara hatiku yang terasa menyesakkan
dadaku.
“Itu
karena kau sangat mencintaiku, kelinci.”
Suara
ini, sepertinya aku mengenalnya. Aku buru-buru menghapus airmataku, kemudian
berbalik. Dia...
“Opp...
ani, maksudku Kyuhyun-ssi. Kenapa kamu ada di sini? Dan, apa maksud perkataanmu?”
“Mengapa
kamu tak lagi memanggilku oppa?” sepertinya dia mencoba mengalihkan
pembicaraan?
“Aniyo.
Nan keunyang...”
“Hanya
apa?” Issh! Kenapa dia memotong pembicaraanku.
“Ani,”
jawabku. “Wae yeogisseo (mengapa kau disini?)” kucoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku
tadi mendengar seseorang berteriak, dan setelah itu dia meneriakkan namaku,
makanya aku kesini,” jawabnya enteng.
“Ta..tapi,
bukankah tadi kau di cafe?”
“Dari
mana kau tahu?”
“Ani.
Lupakan,” Sungguh, aku bingung dengan ini semua.
Sunyi.
“Kelinci.....”
Mwo! Mengapa dia masih memanggilku kelinci?
“Berhenti
memanggilku kelinci, Kyuhyun-ssi. Aku punya nama. Dan namaku Shin Ah
Rin -jika kau lupa-“
“Ani.
Aku lebih senang memanggilmu kelinci.” Sebenarnya apa yang diinginkan namja
ini? “Kelinci, mianhae...” lanjutnya. Apa maksudnya kini?
“Apa
maksudmu? Mengapa kau minta maaf?” tanyaku padanya.
“Maaf
karena telah membuatmu menunggu terlalu lama,” jawabnya.
“Apa
maksudmu sebenarnya, Kyuhyun-ssi? Aku benar-benar tak mengerti,”
tanyaku dengan wajah bingung. Sungguh aku tak mengerti dengan perktaannya. Apa
dia ingin memberiku harapan lagi? Tiba-tiba, dia menarik lenganku dan
memelukku.
“Y...ya,
Kyuhyun-ssi. Apa
yang kamu lakukan?” aku berusaha menjauhkan dirinya, namun dia semakn erat
memelukku. “Kyuhyun -ssi, jebal, lepaskan aku. Atau....”
“Mianhae,
Rin-ah. Saranghae,” belum selesai perkataanku, dia sudah memotongnya. Dan tadi
dia bilang apa? SARANGHAE? Aniyo. Aku pasti salah dengar.
“M...M..mwo?”
apa ini? Kenapa aku berdebar-debar?
“Saranghae,
Rin-ah. Nan neoreul neomu saranghae. Maafkan aku yang telah membuatmu
menderita. Maafkan aku yang telah membuatmu menangis. Jeongmal mianhae,
Rin-ah.”
Tubuhku
menegang. Aku lupa untuk memberontak dari pelukannya. Tak ku rasakan air mataku
telah membentuk sungai-sungai kecil di pipiku. Entah apa yang kini tengah
kurasakan. Bahagia? Sedih? Haru? Beribu macam rasa kini tengah bercampur dalam
hatiku.aku bingung dengan perasaanku saat ini.
Perlahan,
dia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Kemudian, dia menghapus air mataku
menggunakan kedua jari jempolnya.
“Uljima,
Rin-ah. Kau tak boleh menangis lagi. Aku tak tahan selalu melihatmu menangis
seperti ini,” katanya sambil terus mengusap air mataku yang lagi-lagi keluar
tanpa bisa aku kendalikan. “Maafkan aku Rin-ah. Ini semua salahku. Semua ini
terjadi karna keegoisanku. Jeongmal mianhae.” Kini matanya mulai terlihat
berkaca-kaca.
“A...apa
yang barusan kau katakan Kyuhyun-ah?” aku berusaha mencerna
kata-katanya.
“Saranghae,
kelinciku. Aku mencintaimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu sejak dulu,”
jawabnya sambil memandang manik mataku.
“Ta...tapi,
kenapa kau pergi Kyuhyun -ah. Kenapa kau meninggalkanku? Mengapa
kau bersikap seperti itu Kyu? Wae?” tanyaku bertubi-tubi. Kurasakan
kembali air mataku jatuh dari pelupuk mataku. “Mengapa kau pergi begitu saja, Kyu?
Mengapa kau meninggalkanku? Kau tahu, sangat sulit bagiku untuk membuka hatiku
pada orang lain.” Lanjutku menumpahkan segala beban yang ku rasakan.
“Maafkan
aku, Rin-ah. Ini semua terjadi arena keegoisanku yang sangat. Maafkan aku. Aku
tak ingin membuatmu menangis waktu itu, aku ingin agar kau membenciku, agar aku
tak merasa berat untuk meninggalkanmu. Maafkan aku, Rin-ah,” jawabnya.
“Keundae,
neo aro? Sikapmu itu justru membuatku sakit, Kyu. Aro? Saat itu aku
benar-benar merasa hancur. Dan apa kau tahu? Sampai saat ini aku takut membuka
hatiku kepada orang lain. Aku takut merasakan sakit lagi seperti yang telah kau
torehkan, Kyu. Aku sangat sakit waktu itu. Apalagi, kau berpacaran dengan
sahabatku sendiri. Kau tahu betapa beratnya aku tersenyum bila dia menceritakan
tentang dirimu? Kau sangat jahat Kyu. Nappeun neol!!” kembali aku menumpahkan beban
yang selama ini menggelayut di dadaku. Air mataku kembali menganak sungai.
Begitu juga dengan Kyuhyun. Sepertinya dia juga menangis, tapi aku
tak tahu alasannya menangis.
“Mianhae,
Rin-ah. Jeongmal mianhae,” bisiknya di sela-sela tangisnya.
Setelah
kami agak tenang, Kyuhyun kemudian menceritakan alasannya
meninggalkanku dan berpacaran dengan Kang Sohae. Saat itu, dia diharuskan oleh
orangtuanya untuk melanjutkan kuliahnya di Australia setelah dia menyelesaikan
pendidikannya SMA-nya di Korea. Dia tidak ingin aku terluka, hingga dia
berusaha membuat aku membencinya dengan memacari Sohae. Katanya, Sohae tahu
tentang rencananya yang ingin membuatku membencinya. Sungguh, aku tak
menduganya sama sekali.
“Jadi,
apa kau memaafkanku, kelinciku?” tanya Kyuhyun setelah dia menjelaskan
padaku alasan dia memperlakukan aku seperti itu.
“YA! Jangan memanggilku kelinci! Karena aku bukan kelinci,” jawabku.
“Geurae. Bagaimana kalau chagi?” tanyanya dengan senyum jahil tersungging di
bibir indahnya. Dan, BLUSH. Wajahku terasa memanas. Pasti wajahku sudah seperti
kepiting rebus saking merahnya.
“A...apa.. apa maksudmu, Kyu?” tanyaku dengan terbata-bata.
“Saranghae, Rin-ah. Maukah kau menerimaku menjadi namjachingumu kembali?” katanya
sambil menggenggam kedua tanganku kemudian menciumnya lembut yang berhasil
membuatku salah tingkah.
“Na...na, nado, oppa. Nado saranghaeyo,” jawabku sambil
menunduk, menyembunyikan wajahku yang kini pasti telah memerah
sempurna.
“Jeo...jeongmalyo??” Isshh, apa dia ta percaya padaku? Aku menganggukkan
kepalaku. Dan dengan secepat kilat dia menarikku ke dalam pelukannya. Sungguh,
rasanya sangat nyaman berada dalam pelukannya seperti saat ini. “Gomawo, Rin-ah.
Jeongmal gomawo, bahwa kau masih mau menyimpan hatiku untukmu. Terimakasih
karena kau masih mencintaiku setelah semua yang kulakukan padamu selama ini.
Jeongmal gomawo, Rin-ah,” katanya sambil mempererat pelukannya.
“Ne, oppa,” kataku sambil membalas pelukannya. “Keundae oppa, siapa yeoja yang
tadi di cafe? Bukankah tadi kau memanggilnya chagi?” tanyaku kemudian melepas
pelukannya dariku.
“Oh, yeoja itu adikku,” jawabnya. “Apa itu yang membuatmu lari dan berteriak di
sini? Apa kau pikir dia adalah yeojachinguku?” tanyanya dengan senyum evil
terkembang di bibirnya. Karena malu, aku hanya mengangguk dan kembali
menundukkan wajahku dalam-dalam agar dia tak melihat betapa merahnya wajahku
saat ini. Kudengar dia terkikik melihat anggukanku.
“YA! JANGAN MENERTAWAIKU SEPERTI ITU!!” Aku berteriak karena dia terus-terusan
terkikik geli. Bukannya berhenti, tawanya kini bahkan meledak dan berhasil
membuatku mandeg(?). Aku mengerucutkan bibirku mendengar tawanya. “Puas kau
menertawaiku, Kyuhyun -ssi? Geureum, aku mau pulang. Annyeong,” kataku sambil
beranjak berdiri. Namun tiba-tiba, dia kembali menarikku ke dalam pelukannya.
“Mianhaeyo, chagiya. Kau tahu kan, kalau aku hanya mencintaimu. Tak ada ruang
untuk yeoja lain dihatiku. Dan kau harus percaya itu. Jangan pernah meragukan
cintaku untukmu, chagi,” ucapnya lembut sambil membelai rambutku.
“Aku akan mencoba
untuk mempercayaimu, oppa,” jawabku.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar