Sabtu, 04 Januari 2014

Title : Mianhae, Rin-ah…
Author : Hilalatul Aini/ Kim Min Ri
Fb : http://www.facebook.com/hilalatul.aini
Twitter : https://twitter.com/Clouds_Girls
Genre : Sad(?) Romance(?)
Rating : 15(?)+
Length : OneShoot
Cast :    o> Cho Kyuhyun [ 규현]
             o> Shin Ah Rin  [ ]

This is my own Story, my own idea..
Check It Out, Readers..
* 민리 입니다*

Kenapa di sini (neken dada) terasa sangat sakit ketika aku melihatnya  bersama orang lain? Memangnya apa urusanku dengannya? Bukankah aku sudah bertekad akan melupakannya? Kenapa masih saja terasa sakit.
 “ARRRRRGGGGGGGHHHHH!!!!!” aku berteriak di tepi sungai Han untuk melepas semua rasa sakit ini. Sungguh. Rasanya terlalu menyakitkan. Dia yang dulu selalu mengkhawatirkan keadaanku, sekarang malah tidak pernah mau mengetahui keadaanku. Kini dia membenciku.
Alasan?
Aku tak tahu alsan mengapa dia menjauhiku. Sejak dia mengenal Kang Sohae, sikapnya mulai berubah terhadapku. Dia yang selalu memanggilku ‘chagi’ disetiap messege yang dikirimnya untukku, mulai tidak menggubris messege yang aku kirimkan. Dia yang biasanya selalu menelponku, sekedar  untuk memastikan keadaanku, mulai menghilangkan kebiasaannya itu.
Aku pernah menanyakan alasan perubahan sikapnya padaku, tapi dia tak pernah menggubris pertanyaanku. Malah dia memutuskan komunikasinya denganku. Dia benar-benar menghilang dari kehidupanku.
Aku benci pada Kang Sohae. Padahal dia mengetahui perasaanku padanya. Tapi entah apa alasannya, dia berpacaran dengannya. Aku sungguh membencinya. Namun apa yang bisa aku lakukan? Sohae adalah sahabatku. Dan aku tak ingin persahabatan kami putus hanya gara-gara dirinya.
Namun hal yang tidak bisa aku maafkan dari dirinya adalah, dia tak pernah menyapaku saat kami berpapasan. Dia malah mengalihkan pandangannya dari diriku. Dia membenciku. Dia bersikap seolah tak pernah mengenalku. Dia seolah jijik padaku.
                                                             *****
Malam itu, aku sedang mengulang pelajaran di kamar kosku, karena esoknya akan ada kuis yang diadakan oleh Park Sonsaengnim. Tiba-tiba  ‘Drrt drrt drrt’  handphoneku bergetar, tanda sebuah sms masuk.
‘From : Cho Kyuhyun
 Content : Annyeong, Chagiya. Ottokhe jinaseyo?’
“Mwo?? Chagi???” aku terkejut membaca pesan darinya.
‘Apa benar ini Kyuhyun? Mengapa dia memanggilku chagi? Ah, aniyo.. ini pasti kerjaan Eunhyuk atau Donghae. Mana mungkin Kyuhyun memanngilku chagi’ batinku.

‘To : Cho Kyuhyun
 Content: Mianhae. Nuguseyo?’
Sent. 
“Huh, apa-apaan mereka? Apa mereka pikir bisa mempermainkan aku? Kyuhyun tidak mungkin memanggilku chagi. Di sekolah, dia bahkan jarang menyapaku.” gumamku. ‘Tapi, aku memang menyukainya. Aku sungguh sangat menyukainya. Andai dia benar Kyu...’
Drrt drrt drrt
‘From : Cho Kyuhyun
 Content : Kyuhyun imnida. Bukankah tadi siang aku sudah menelponmu?’
“Maldo Andwae. Tidak mungkin kau Kyu”, gumamku.
Reply.
‘To : Cho Kyuhyun
 Content : Maldo andwae. Kamu pasti bukan Kyuhyun. Kau  pasti Eunhyuk atau kalau bukan, kamu pasti Donghae, benar kan? Dasar pasangan ikan! Jangan mempermainkanku!’
Sent.
Drrt drrt drrt
‘From : Cho Kyuhyun
 Content : Aniyo. Ini aku Cho Kyuhyun, kelinciku sayang.’
Reply
‘To : Cho Kyuhyun
 Content : Aniyo. Kamu pasti bukan Kyuhyun. Sudahlah, jangan mempermainkan aku.’
Sent.
‘Mengapa kamu tak percaya kalau aku adalah Cho Kyuhyun?’
‘Karna kau memanggilku chagi. Kamu pasti bukan Cho Kyuhyun . Sudahlah, jangan mmpermainkan aku. Pabo namja!’
‘Ya! Apa salahnya aku memanggilmu chagi? Apa kamu lebih senang dipnggil ‘tokki’ (kelinc)i?’
‘Ya! Jangan memanggilku kelinci. Aku bukan kelinci!!’
‘Makanya, biarkan aku memanggilmu chagi, eoh?.’
‘Andwae. Siapa kamu, seenaknya mau memanggilku chagi? Hanya kekasihku yang boleh memanggilku chagi. Arra! Dan satu lagi. Berhenti mempermainkanku.Aku tidak akan tertipu, karna kau bukan Cho Kyuhyun!!’
‘Bagaimana agar kamu percaya kalau aku adalah Cho Kyuhyun? Dan aku hanya ingin memanggilmu chagi.’
‘Aku sangat mengenal suara  Kyuhyun. Kamu bisa menelponku....’  Sent.
‘Haha, aku yakin kau takkan berani mempermainkanku lagi, batinku sambil tersenyum memandang layar handphoneku.
‘Kapan aku bisa menelponmu?’
‘Teaserah. Malam ini bisa, besok juga bisa. Itu terserah kamu.’
“Hahaha. Kamu takkan bisa lagi mempermainkanku. Karena aku sangat mengenal suara Kyuhyunie,” aku tersenyum puas memandang layar handphone ku. Namun tiba-tiba....

Cause i can’t stop thinking about you girl
Neol naekkeoro, mandeulgeoya
No I can’t stop thinking about you girl
Nae uri-ane, gachigo shipeo

Cho Kyuhyun calling’
MWO??!! Dia menelponku? Apa mungkin dia benar-benar Kyunie?
Ku tekan tombol menjawab telpon. Perlahan ku dekatkan ke telingku.
“Yo.. yoboseo,”kataku terbata.
“Yoboseyo, kelinci.” Jawaban dari seberang sana.
DEG.
Itu memang suaranya Kyuhyun.
“Ottae? Apa sekarang kamu percaya bahwa aku adalah Cho Kyuhyun, chagiya?” lanjutnya.
DEG DEG DEG
“A..a..apa benar kau Cho Kyuhyun?” lho. Kok aku malah tak yakin?
“Lho, kok kamu ngomong begitu? Bukannya kau sangat mengenal suaraku? Apa kau masih belum percaya, kelinci?”
“YA! Jangan memanggilku kelinci!” ku dengar dia terkekeh. Aduh, pasti wajahku sudah sangat merah sekarang. “YA! JANGAN MENERTAWAIKU SEPERTI  ITU!!”
“Hahahaha. Kau lucu, Rin-ah. Geureom, bolehkah aku memanggilmu chagi?”
BLUSH. Wajahku kembali berhasil memerah dengan sempurna(???)
“A.... i..i..itu..” aku menggantung kata-kataku.
“Hmm?”
“I..itu, itu... Terserahlah,”kembali kurasakan wajahku memanas.
“Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu chagiya, Arra? Dan kau harus memanggilku Oppa. Arra!!” katanya, yang lagi-lagi sukses membuatku memerah.
“Baiklah, Kyu.. ani, maksudku, oppa,” jawabku.
Dan sejak saat itulah dia memanggilku chagi, tapi hanya melalui messege atau saat dia menelpon. Di sekolah? Sikapnya seperti biasanya. Dia tidak pernah menyapaku. Namun bila berpapasan denganku, dia akan menunduk sambil terenyum tak jelas. Itu juga yang aku lakukan.
Jujur saja aku bingung dengan hubunganku dengan dirinya. Dikatakan pacar, tapi kami tak pernah berkencan. Tapi dikatakan teman, sepertinya salah juga. Karena dia selalu memanggilku chagi. Dan dia selalu mengkhawatirkan keadaanku. Dia akan marah bila aku menyapa EunHae, tapi aku tidak menyapanya. Dia juga akan memarahiku kalau aku terlambat makan. Dia sangat memperhatikanku.
Hingga saat kami naik kelas 2 SMA. Sikapnya mulai agak berubah setelah aku mengenalkan dia pada Kang Sohae.
Kang Sohae adalah sahabatku dari Bupyung. Kami  telah bersahabat sejak kecil. Kami sangat dekat seolah kami adalah saudara kandung. Kami berpisah ketika orangtaku meninggal, dan aku diboyong oleh Lee  ahjussi ke Seoul.
Mengapa dia bisa ada di sini? Appanya dipindahkan oleh perusahaannya ke Kantor pusat mereka di Seoul karena prestasinya yang sangat baik. Namun yang tak ku sangka, Sohae tega merebut dirinya dari diriku. Padahal dia mengetahui bagaimana perasaanku padanya.
Setelah mengenal dan menjadi namjachingu Kang Sohae, Kyuhyun benar-benar memutuskan hubungan denganku. Messege yang ku kirim, tak pernah sekalipun dia membalasnya. Ketika aku menelpon, dia tidak mau menjawabnya. Dan, bila dijawab pun, pasti saat itu dia sedang sibuk. Ketika berpapasan di sekolah, dia tidak lagi tersenyum padaku. Dia bahkan melengoskan wajahnya saat bertemu denganku. Seakan-akan dia membenciku dan tidak pernah mengenalku.
Aku selalu bertanya dalam hati, mengapa sikapnya berubah sedrastis ini padaku dalam waktu yang singkat. Pernah aku ingin bertanya langsung padanya. Namun melihat sikapnya yang seolah tidak pernah mengenalku, keberanianku surut. Aku benar-benar takut berhadapan dengannya.
Kyuhyun selalu akrab dengan yeojadeul yang dikenalnya. Tapi, mengapa dia tidak bisa bersikap sama kepadaku?
Okelah kalau dia tidak mencintaiku lagi. Kami bisa menjadi teman. It’s fine. Namun, dia seolah menutup dirinya dari diriku.
Apa segitunya dia membenciku? 
6 tahun telah berlalu. Namun aku masih belum bisa membuka hatiku kepada namja lain. Entah kenapa, aku selalu yakin bahwa dia akan kembali padaku suatu saat nanti. Banyak namja yang mencoba mendekatiku. Namun aku hanya menganggap mereka tidak lebih dari teman. Hingga akhirnya tak ada lagi yang berniat mendekatiku.
Suatu hari, saat aku tengah menikmati dinner ku di sebuah cafe seorang diri, tiba-tiba mataku menangkap sosok namja yang selama ini ku nanti. Namja yang selalu ada di hatiku. Dia memasuki cafe sambil menelpon. Aku ingin menyapanya, namun urung ketika kulihat dia melambaikan tangan kepada seorang yeoja yang sangat cantik menurutku.
“Kyuhyun oppa! Jeongmal bogoshipeo,”katanya sambil memeluk namja itu. Sungguh, sangat menyakitkan bagiku untuk melihatnya. Namun mataku terus mengawasi pergerakan mereka. Mataku tidak bisa lepas dari Kyuhyun. Kulihat dia membalas pelukan yeoja itu sambil mengelus rambut panjang yang dibiarkan tergerai dengan indahnya.
“Nado, chagi” jawabnya.
Chagi. Dia memanggil yeoja itu chagi? Apa mungkin, yeoja itu adalah kekasihnya?
Sungguh, aku tidak sanggup lagi melihat mereka. Aku melangkah gontai menuju kasir dan membayar makanan yang telah aku makan walaupun tak sampai setengah dari porsinya. Selera makanku hilang melihat adegan tadi. Aku meninggalkan cafe itu dan berjalan menuju sungai Han yang lumayan dekat dengan cafe itu. Aku berjalan gontai dengan air mata yang telah menganak sungai di pipiku.
Sungguh sangat menyakitkan melihatnya memeluk dan memanggil yeoja lain dengan panggilan chagi. Hatiku remuk redam. Aku ingin menumpahkan segala kesakitan hatiku dengan berteriak di tepi sungai Han.
“AAARRRRGGGGHHHH!!!!” Aku tak perduli orang lain memandangku aneh. Aku terus menangis dan berteriak sambil memukul-mukul dadaku yang terasa sangat sakit.
“Mengapa aku sebodoh ini yang selalu mengharapkan dirimu kembali padaku, Kyuhyunie. Mengapa aku tak bisa membencimu? Aku lelah. Aku sangat-sangat lelah menanggung beban ini. Mengapa aku selalu mengharapkanmu? WAE OPPA!! MENGAPA AKU TAK BISA MEMBENCIMU??!!” kembali aku meneriakkan suara hatiku yang terasa menyesakkan dadaku.
“Itu karena kau sangat mencintaiku, kelinci.”
Suara ini, sepertinya aku mengenalnya. Aku buru-buru menghapus airmataku, kemudian berbalik. Dia...
“Opp... ani, maksudku Kyuhyun-ssi. Kenapa kamu ada di sini? Dan, apa maksud perkataanmu?”
“Mengapa kamu tak lagi memanggilku oppa?” sepertinya dia mencoba mengalihkan pembicaraan?
“Aniyo. Nan keunyang...”
“Hanya apa?” Issh! Kenapa dia memotong pembicaraanku.
“Ani,” jawabku. “Wae yeogisseo (mengapa kau disini?)” kucoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku tadi mendengar seseorang berteriak, dan setelah itu dia meneriakkan namaku, makanya aku kesini,” jawabnya enteng.
“Ta..tapi, bukankah tadi kau di cafe?”
“Dari mana kau tahu?”
“Ani. Lupakan,” Sungguh, aku bingung dengan ini semua.
Sunyi.
“Kelinci.....” Mwo! Mengapa dia masih memanggilku kelinci?
“Berhenti memanggilku kelinci, Kyuhyun-ssi. Aku punya nama. Dan namaku Shin Ah Rin -jika kau lupa-“
“Ani. Aku lebih senang memanggilmu kelinci.” Sebenarnya apa yang diinginkan namja ini? “Kelinci, mianhae...” lanjutnya. Apa maksudnya kini?
“Apa maksudmu? Mengapa kau minta maaf?” tanyaku padanya.
“Maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama,” jawabnya.
“Apa maksudmu sebenarnya, Kyuhyun-ssi? Aku benar-benar tak mengerti,” tanyaku dengan wajah bingung. Sungguh aku tak mengerti dengan perktaannya. Apa dia ingin memberiku harapan lagi? Tiba-tiba, dia menarik lenganku dan memelukku.
“Y...ya, Kyuhyun-ssi. Apa yang kamu lakukan?” aku berusaha menjauhkan dirinya, namun dia semakn erat memelukku. “Kyuhyun -ssi, jebal, lepaskan aku. Atau....”
“Mianhae, Rin-ah. Saranghae,” belum selesai perkataanku, dia sudah memotongnya. Dan tadi dia bilang apa? SARANGHAE? Aniyo. Aku pasti salah dengar.
“M...M..mwo?” apa ini? Kenapa aku berdebar-debar?
“Saranghae, Rin-ah. Nan neoreul neomu saranghae. Maafkan aku yang telah membuatmu menderita. Maafkan aku yang telah membuatmu menangis. Jeongmal mianhae, Rin-ah.”
Tubuhku menegang. Aku lupa untuk memberontak dari pelukannya. Tak ku rasakan air mataku telah membentuk sungai-sungai kecil di pipiku. Entah apa yang kini tengah kurasakan. Bahagia? Sedih? Haru? Beribu macam rasa kini tengah bercampur dalam hatiku.aku bingung dengan perasaanku saat ini.
Perlahan, dia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Kemudian, dia menghapus air mataku menggunakan kedua jari jempolnya.
“Uljima, Rin-ah. Kau tak boleh menangis lagi. Aku tak tahan selalu melihatmu menangis seperti ini,” katanya sambil terus mengusap air mataku yang lagi-lagi keluar tanpa bisa aku kendalikan. “Maafkan aku Rin-ah. Ini semua salahku. Semua ini terjadi karna keegoisanku. Jeongmal mianhae.” Kini matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
“A...apa yang barusan kau katakan Kyuhyun-ah?” aku berusaha mencerna kata-katanya.
“Saranghae, kelinciku. Aku mencintaimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu sejak dulu,” jawabnya sambil memandang manik mataku.
“Ta...tapi, kenapa kau pergi Kyuhyun -ah. Kenapa kau meninggalkanku? Mengapa kau bersikap seperti itu Kyu? Wae?” tanyaku bertubi-tubi. Kurasakan kembali air mataku jatuh dari pelupuk mataku. “Mengapa kau pergi begitu saja, Kyu? Mengapa kau meninggalkanku? Kau tahu, sangat sulit bagiku untuk membuka hatiku pada orang lain.” Lanjutku menumpahkan segala beban yang ku rasakan.
“Maafkan aku, Rin-ah. Ini semua terjadi arena keegoisanku yang sangat. Maafkan aku. Aku tak ingin membuatmu menangis waktu itu, aku ingin agar kau membenciku, agar aku tak merasa berat untuk meninggalkanmu. Maafkan aku, Rin-ah,” jawabnya.
“Keundae, neo aro? Sikapmu itu justru membuatku sakit, Kyu. Aro? Saat itu aku benar-benar merasa hancur. Dan apa kau tahu? Sampai saat ini aku takut membuka hatiku kepada orang lain. Aku takut merasakan sakit lagi seperti yang telah kau torehkan, Kyu. Aku sangat sakit waktu itu. Apalagi, kau berpacaran dengan sahabatku sendiri. Kau tahu betapa beratnya aku tersenyum bila dia menceritakan tentang dirimu? Kau sangat jahat Kyu. Nappeun neol!!” kembali aku menumpahkan beban yang selama ini menggelayut di dadaku. Air mataku kembali menganak sungai. Begitu juga dengan Kyuhyun. Sepertinya dia juga menangis, tapi aku tak tahu alasannya menangis.
“Mianhae, Rin-ah. Jeongmal mianhae,” bisiknya di sela-sela tangisnya.
Setelah kami agak tenang, Kyuhyun kemudian menceritakan alasannya meninggalkanku dan berpacaran dengan Kang Sohae. Saat itu, dia diharuskan oleh orangtuanya untuk melanjutkan kuliahnya di Australia setelah dia menyelesaikan pendidikannya SMA-nya di  Korea. Dia tidak ingin aku terluka, hingga dia berusaha membuat aku membencinya dengan memacari Sohae. Katanya, Sohae tahu tentang rencananya yang ingin membuatku membencinya. Sungguh, aku tak menduganya sama sekali.
      “Jadi, apa kau memaafkanku, kelinciku?” tanya Kyuhyun setelah dia menjelaskan padaku alasan dia memperlakukan aku seperti itu.
                   “YA! Jangan memanggilku kelinci! Karena aku bukan kelinci,” jawabku.
                “Geurae. Bagaimana kalau chagi?” tanyanya dengan senyum jahil tersungging di bibir indahnya. Dan, BLUSH. Wajahku terasa memanas. Pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus saking merahnya.
                “A...apa.. apa maksudmu, Kyu?” tanyaku dengan terbata-bata.
                “Saranghae, Rin-ah. Maukah kau menerimaku menjadi namjachingumu kembali?” katanya sambil menggenggam kedua tanganku kemudian menciumnya lembut yang berhasil membuatku salah tingkah.
                “Na...na, nado, oppa. Nado saranghaeyo,” jawabku sambil menunduk, menyembunyikan wajahku yang kini pasti telah memerah sempurna.              
                “Jeo...jeongmalyo??” Isshh, apa dia ta percaya padaku? Aku menganggukkan kepalaku. Dan dengan secepat kilat dia menarikku ke dalam pelukannya. Sungguh, rasanya sangat nyaman berada dalam pelukannya seperti saat ini. “Gomawo, Rin-ah. Jeongmal gomawo, bahwa kau masih mau menyimpan hatiku untukmu. Terimakasih karena kau masih mencintaiku setelah semua yang kulakukan padamu selama ini. Jeongmal gomawo, Rin-ah,” katanya sambil mempererat pelukannya.
                 “Ne, oppa,” kataku sambil membalas pelukannya. “Keundae oppa, siapa yeoja yang tadi di cafe? Bukankah tadi kau memanggilnya chagi?” tanyaku kemudian melepas pelukannya dariku.
                    “Oh, yeoja itu adikku,” jawabnya. “Apa itu yang membuatmu lari dan berteriak di sini? Apa kau pikir dia adalah yeojachinguku?” tanyanya dengan senyum evil terkembang di bibirnya.  Karena malu, aku hanya mengangguk dan kembali menundukkan wajahku dalam-dalam agar dia tak melihat betapa merahnya wajahku saat ini. Kudengar dia terkikik melihat anggukanku.
                   “YA! JANGAN MENERTAWAIKU SEPERTI ITU!!” Aku berteriak karena dia terus-terusan terkikik geli. Bukannya berhenti, tawanya kini bahkan meledak dan berhasil membuatku mandeg(?). Aku mengerucutkan bibirku mendengar tawanya. “Puas kau menertawaiku, Kyuhyun -ssi? Geureum, aku mau pulang. Annyeong,” kataku sambil beranjak berdiri. Namun tiba-tiba, dia kembali menarikku ke dalam pelukannya.
                “Mianhaeyo, chagiya. Kau tahu kan, kalau aku hanya mencintaimu. Tak ada ruang untuk yeoja lain dihatiku. Dan kau harus percaya itu. Jangan pernah meragukan cintaku untukmu, chagi,” ucapnya lembut sambil membelai rambutku.
“Aku akan mencoba untuk mempercayaimu, oppa,” jawabku.


END